IWAN RAHMAT/SUMEDANG ONLINE

BERIKAN APRESIASI: Kepala SMP Negeri 1 Cimalaka, Enung Titin Agustikawati memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Seminar Nasional Kapasitas Manajerial Kepala Sekolah Menuju Pendidikan Berkualitas Mewujudkan Sumedang Simpati 2023, di Puri Khatulistiwa Jatinangor Sumedang, Rabu, 26 Februari 2020.

Mimpikan SMP Negeri 1 Cimalaka Sebagai Taman Belajar Bagi Peserta Didik

TERBIT: REPORTER: ADMIN EDITOR: ADMIN

SUMEDANG, “SJN”.com,- Sejak diberi amanah untuk memimpin SMP Negeri 1 Cimalaka, Kabupaten Sumedang pada 2 Februari 2017 silam, prioritas utama yang terbersit dalam benak Dra. Enung Titin Agustikawati, MM., adalah bagaimana menata sekolah yang berlokasi di Jalan Balai Desa, Kec. Cimalaka ini, sebagai Taman Belajar dan menjadi Rumah Kedua bagi peserta didik dan para guru.

Pasalnya, ketika dirinya pertama kali menginjakan kakinya di sekolah yang dikenal dengan sebutan “SACI” ini, Enung melihat ada beberapa hal yang harus dibenahi, baik dari visi misi maupun sarana dan prasarana dalam upaya menunjang kenyamanan dalam proses kegiatan belajar mengajar (PBM).

Menurut Enung, salah satu program kerjanya yang segera harus dibenahi adalah merevisi visi misi sekolah yang secara kebetulan ketika dirinya masuk SMPN 1 Cimalaka, visi misi sekolah sudah habis waktunya pada tahun 2017. “Sehingga langkah pertama yang harus segera dilakukan adalah membentuk tim pengembangan sekolah untuk menyusun dan merevisi, apakah visi misi sekolah itu sudah layak atau tidak dipakai,” katanya.

Setelah tim pengembang selesai merumuskan visi misi tersebut, tambah Enung, kita memiliki motto “SACI KUAT”, yakni SMPN 1 Cimalaka 1 Kompak, Unggul, Agamis dan Tangguh. “Dari visi misi ini salah satu tujuannya untuk mewujudkan sekolah sebagai Taman Belajar. Nah, setelah memiliki visi misi kami tim pengembangan sekolah beserta seluruh stakeholder bekerjasama dengan komite sekolah membuat program untuk jangka pendek, menengah dan program tahunan,” tuturnya.

Setelah 2 tahun menduduki kursi jabatan Kepala SMPN 1 Cimalaka banyak keberhasilan yang diraih oleh Enung, salah satunya absen jempol yang lebih familier dilingkungi peserta didik dan guru dengan sebutan “Tet Terelet”. Gagasan dibuatnya aplikasi Tet Terelet ini, karena SMPN 1 Cimalaka ini bisa dibilang sekolah yang dipinggiran bukan, kota juga bukan. Tetapi ada kekhawatiran dari kami anak-anak takut terkontaminasi dengan perkembangan zaman milenial sekarang yang tidak semuanya postif, namun ada juga yang negatifnya.

“Tet Terelet bisa disebut alat kontrol, bahwa orang tua tidak bisa lepas begitu saja mempercayakan anaknya sepenuhnya kepada sekolah. Jadi harus seimbang antara orang tua dan sekolah. Dengan adanya absen Tet Terelet ini, maka ketika anak sudah sampai ke sekolah bisa terkontrol oleh orang tuanya. Absen jempol ini akan bunyi “Tet” di sekolah, kemudian bunyi “Terelet” di handphone (HP) orang tua yang menginformasikan bahwa anaknya sudah sampai di sekolah,” ujarnya.

Menurut Enung, selama anak berada di sekolah orang tua itu akan merasa nyaman, dan absen ini tidak hanya diberlakukan pada saat peserta didik sampai di sekolah, tetapi saat pulang pun melakukan hal yang sama. Bagi anak yang mengikuti ektrakurikuler (ekskul) juga harus mengabsen, baik saat akan mengikuti maupun setelah selesai kegiatan ekskul. “Alhamdulillah dengan absen jempol ini sangat membantu orang tua untuk mengetahui anaknya ada atau tidak di sekolah,” katanya.

Absen jempol ini, menurut Enung, berlaku bagi semua (siswa, guru dan karyawan) atau pendidik dan tenaga pendidik. Hanya yang membedakan jika guru yang mengabsen, maka bunyi tereletnya sampai ke HP kepala sekolah, sehingga bisa diktahui jam masuk dan pulang guru. “Dimana pun saya berada bisa mengetahui kehadiran guru, dan selain itu juga bisa mengontrol saat guru mengajar lewat TV. Alhamdulillah di Kabupaten Sumedang baru SMPN 1 Cimalaka yang melakukan absen jempol ini,” tandas Enung.

Selain absen jempol, program lain yang dijalankannya adalah “Tabarat”, yakni tabungan untuk akhirat. Dengan program ini, katanya, kami ingin meningkatkan kesadaran warga sekolah, bahwa memberi itu akan lebih besar pahalanya ketimbang hanya menerima. Setiap hari Jumat selalu diingatkan melalui WhatsApp (WA) grup tausiah singkat mengenai infaq kepada guru. “Alhamdulillah program Tabarat ini bisa berjalan, dan uang hasil infaq ini yang dikelola oleh guru PAI seraca terbuka itu bisa digunakan untuk menata atau mempercantik sarana dan prasarana di sekolah ini,” ujarnya.

Tujuan dari program Tabarat ini, menurut Enung, tiada lain ingin menjadikan sekolah ini Taman Belajar. Lalu bagaimana caranya supaya sekolah menjadi Taman Belajar? “Pastinya kita harus membenahi sarana dan prasarana yang ada, seperti membuat tempat duduk bagi peserta didik, mengecat semua sudut dan ruangan dengan cat warna-warna, membuat mural. Sehingga sekolah itu tidak terkesan mengerikan bagi anak-anak, dan menjadikan semua sudut atau ruangan sebagai tempat belajar,” tandasnya.

Diakui Enung, alhamdulillah dengan uang hasil infaq itu kita sudah bisa mengecet seluruh ruangan sekolah, termasuk ruang kelas, bangku dan kursi belajar , penyediakan tempat sampah, pojok baca dan lain sebagainya. “Semua yang kita laksanakan itu selalu dilombakan, sehingga motivasi anak bisa meningkat. Saya sangat bersyukur karena semua guru sangat mendukung. Sehingga sekolah ini menjadi “SACI KUAT Kampus Pelangi”,” katanya. (y.dewi/”sj”)**

Sumber Berita: gorajuara